Pada 21 April 2026, Shin Hyun-song resmi menjabat sebagai
Gubernur Bank of Korea (BOK) untuk masa bakti empat tahun ke depan. Dalam
pidato perdananya, ia menyampaikan visi yang sangat jelas tentang masa depan
uang digital Korea Selatan—namun dengan satu kejutan besar: Ia sama sekali
tidak menyebutkan stablecoin swasta.
Padahal, hanya beberapa minggu sebelumnya dalam sidang
konfirmasi, ia mengakui bahwa stablecoin dapat "berkoeksistensi secara
komplementer dan kompetitif" dengan mata uang digital bank sentral (CBDC)
. Lalu, apa yang berubah? Dan yang lebih penting, apa yang bisa kita pelajari
dari pergeseran fokus ini sebagai individu yang ingin memahami masa depan
keuangan?
Baca Juga: Cuaca Ekstrem: Krisis Dan Strategi Adaptasi
Visi Shin Hyun-song untuk Masa Depan Uang Digital
1. Prioritas Utama: CBDC dan "Deposit Token"
Dalam pidatonya, Shin secara eksplisit menempatkan CBDC (Central
Bank Digital Currency) dan deposit token yang diterbitkan bank komersial
sebagai pusat ekosistem uang digital Korea Selatan . Visinya membangun sistem
berlapis yang terstruktur:
- Bank sentral (BOK) menerbitkan CBDC wholesale sebagai fondasi.
- Bank komersial menerbitkan deposit token yang sepenuhnya dapat dikonversi ke CBDC untuk transaksi sehari-hari.
2. "Project Hangang" dan "Project Agora":
Dari Teori ke Implementasi
Shin mengumumkan akan melanjutkan tahap kedua Project
Hangang—sebuah pilot berbasis blockchain untuk menguji sistem CBDC wholesale.
Di tahap ini, sembilan bank komersial utama Korea Selatan telah berpartisipasi
dalam uji coba transaksi nyata, termasuk aplikasi potensial untuk penyaluran
subsidi pemerintah senilai hingga 730 miliar dolar AS.
3. Mengapa Stablecoin Tidak Disebut? Tiga Alasan Logis
Penghilangan stablecoin dari pidato perdananya bukanlah kebetulan.
Berdasarkan berbagai sumber, ada tiga alasan utama:
Pertama, kekhawatiran terhadap "kesatuan uang" (unity
of money). Dalam makalah penelitian yang diterbitkan sebelum menjabat, Shin
berargumen bahwa stablecoin gagal memenuhi properti fundamental uang karena
fragmentasi antar blockchain. Setiap blockchain memiliki struktur biaya,
tingkat keamanan, dan aturan yang berbeda, sehingga nilai stablecoin yang
identik secara nama bisa berbeda secara fungsi tergantung di jaringan mana ia
berada. Ini adalah masalah serius jika stablecoin ingin berfungsi sebagai alat
tukar yang andal.
Kedua, deadlock regulasi yang berkepanjangan. RUU Digital
Asset Basic Act yang mengatur stablecoin masih mandek di parlemen karena
perbedaan pendapat antara partai berkuasa dan oposisi. Isu utamanya: apakah
penerbitan stablecoin berbasis Won harus dibatasi hanya pada bank komersial
(pandangan pemerintah) atau boleh diperluas ke perusahaan fintech dan teknologi
(pandangan oposisi). Selama belum ada kepastian hukum, BOK memilih fokus pada
apa yang bisa dikendalikan.
4. Namun, Ada Peluang bagi Stablecoin: Ceruk Lintas Batas
Menariknya, meskipun tidak disebut dalam pidato, riset yang
dipublikasikannya sebelumnya mengakui bahwa stablecoin bisa berperan di area
yang tidak terjangkau CBDC. Profesor Lee Jong-seop dari Seoul National
University berpendapat bahwa "permintaan lintas batas untuk Won—seperti
pembayaran dari penggemar K-Pop atau pengiriman uang pekerja migran—sulit
diakomodasi dengan CBDC saja".
Di sinilah stablecoin berbasis Won bisa menjadi katalis: digunakan untuk menciptakan inbound demand terhadap Won, berkontribusi pada stabilitas nilai tukar, bahkan menginduksi masuknya modal ke pasar sekuritas token. Namun, ini masih wacana—belum ada kepastian regulasi.
Baca Juga: Yang Spesial Dari Film 'Project Hail Mary'
Kontrol Sentral dan Inovasi Terbuka
Yang menarik dari pidato Shin adalah perubahan sikap yang
sangat pragmatis. Pada masa konfirmasi, ia membuka pintu bagi koeksistensi.
Begitu resmi menjabat, pintu itu ia sempitkan. Ini adalah pelajaran penting: dalam
ketidakpastian regulasi, institusi akan cenderung memilih jalan yang paling
aman dan dapat dikendalikan.
Apakah ini berarti stablecoin mati di Korea Selatan? Tidak.
Tapi masa depannya akan sangat berbeda dengan yang dibayangkan para pionir
crypto. Stablecoin kemungkinan akan:
- Diterbitkan oleh bank, bukan perusahaan teknologi
- Diatur secara ketat (modal, likuiditas, audit)
- Digunakan untuk kasus-kasus spesifik, bukan sebagai alat tukar sehari-hari
Ini adalah "kemenangan" bagi pendekatan bertahap,
hati-hati, dan berpusat pada institusi yang sudah ada—bukan lompatan besar menuju
desentralisasi penuh.
Baca Juga: Polytron Fox 350: Motor Listrik Paling Laris
Pahami Fondasi Uang Digital dari Sekarang
Visi Shin Hyun-song tentang uang digital mungkin tidak sama
persis dengan yang akan terjadi di Indonesia. Namun, satu pelajaran universal
bisa kita petik: sistem keuangan sedang berubah, dan kita harus memahaminya
dari sekarang.
Apakah stablecoin akan menjadi alat transaksi masa depan
atau hanya alat spesifik untuk ceruk tertentu? Apakah CBDC akan menggantikan
uang tunai? Apakah uang yang kita kenal hari ini akan "mati" dan
digantikan oleh bentuk baru?
Ebook "Apa Dollar yang Kita Kenal Akan Mati?"
ditulis untuk menjawab rasa penasaran kamu. Dari sini kamu akan mempelajari
perbedaan fundamental antara CBDC, stablecoin, dan aset kripto lainnya—serta
bagaimana menyikapi perubahan ini sebagai individu yang cerdas secara
finansial.
Promo Spesial "Stablescience"! Dapatkan ebook ini dengan
hanya Rp39.000 untuk pembaca setia artikel Jayneharaa. Penawaran terbatas.
KLIK DISINI UNTUK MENGUASAI MASA DEPAN KEUANGAN KAMU!
Kesimpulan: Masa Depan Uang Akan Terstruktur, Bukan Anarki
Pidato perdana Gubernur Bank of Korea Shin Hyun-song adalah mikrokosmos dari dilema global saat ini: bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi dengan stabilitas sistem keuangan. Pilihannya jelas: prioritas pada CBDC dan deposit token yang dikendalikan bank, dengan stablecoin swasta hanya diberikan ruang terbatas jika terbukti aman dan bermanfaat.
Baca Juga: Ketika McDonald's Luncurkan Energy Drink
Apa artinya bagi kita? Kita tidak perlu menjadi teknokrat
bank sentral untuk memahami arah perubahan. Mulailah dengan mempelajari
dasar-dasar uang digital, bedakan antara CBDC dan stablecoin, dan pahami
mengapa institusi keuangan global sangat berhati-hati dalam menyikapi aset
digital. Karena pada akhirnya, mereka yang paling siap menghadapi masa depan
bukanlah yang paling berani bereksperimen, tetapi yang paling paham aturan
mainnya—sebelum aturan itu berubah.
Baca Juga: Kini Jadi Kebutuhan: Membuat Cadangan Listrik?
🎧🧀 Follow Media Sosial
Jayneharaa untuk update lainnya
Instagram: Jayneharaa | Digital ProductPublishing
Youtube: Jayneharaa | Digital ProductPublishing
Tiktok: Jayneharaa | Digital ProductPublishing
Facebook: Jayneharaa | Digital ProductPublishing
🔥Cek
Produk Digital Kamu Lainnya Disini:
Apa Dollar Yang Kita KenalAkan Mati?
Fokus – Seni MenarikKesuksesan
Dukung kami untuk terus berkarya dan memberikan value untuk kamu upgrade diri setiap hari: saweria.co/jayneharaa
"Uang adalah kontrak sosial tertua umat manusia. Tidak masalah apakah ia terbuat dari emas, kertas, atau kode digital—yang terpenting adalah semua orang percaya pada nilainya."
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar